Food, Taste and Hunger

Food, Taste, and Hunger ini adalah sebuah film singkat karya Ferdinand Dimadura (nama nih ya, bukan di Madura) dari Filipina (sepertinya). Judul aslinya adalah Chicken a la Carte. Film ini menjadi film favorit di ajang 56th Berlin International Festival. Bagi yang sudah nonton filmnya di atas pasti sudah tau what this is all about. Bagi yang belum nonton (inet lemot, buffer lama), saya akan mencoba menceritakan sedikit sinopsisnya.

Film ini menceritakan tentang masih banyaknya orang-orang di luar sana yang mungkin tidak bisa seperti kita saat ini, memandangi komputer, salah satu tangan menggenggam mouse, membaca artikel ini yang kelaparan yang disebabkan oleh kemiskinan. Hari gini masih bicara soal kemiskinan? Ya. Meskipun dibilang sudah jaman globalisasi, tapi memang begitulah keadaanya dan ironisnya, di jaman yang dibilang globalisasi, tapi jumlah kemiskinan masih tetap saja banyak. Kita tidak mungkin tidak tau, atau mungkin pura-pura tidak tau? kalo iya, I'll let you know.

Mungkin di antara kita seringkali makan di luar, di mal misalnya. Dan pasti sering (setidaknya pernah) makan di restoran fastfood seperti KFC, Wendy's, McDonald, dll. Dalam film ini diceritakan 2 orang anak muda sedang memesan makanan di sebuah restoran fastfood (ayam goreng nih ceritanya). Dan di sana juga dikasih liat proses makanan tersebut datang dari dapur hingga ke tangan tamu. Singkat cerita, 2 anak muda tersebut selesai makan dan hanya tulang ayam yang tersisa. Pasti di dalam restoran fastfood itu banyak tulang-tulang ayam dan sisa makanan yang dibuang di tong sampah. Namun pada malam hari, ternyata ada seorang bapak yang rela datang ke restoran tersebut untuk mengambil sisa-sisa makanan di tong sampah tersebut. Dengan telaten, bapak itu memilah-milah tulang ayam.

Buat apa?
Ternyata bapak itu mengumpulkan sisa-sisa makanan tersebut untuk makan keluarganya. Kedatangan bapak tersebut disambut riang gembira oleh keluarganya. Terlihat anaknya sangat menikmati potongan-potongan daging ayam yang tersisa di tulang ayam.
Ironis sekali memang... Apalagi mengingat mungkin banyak di antara kita yang sering menyisakan makanan, membuang-buang makanan. Padahal di luar sana masih banyak orang membutuhkan makan. Harusnya kita bersyukur hidup kita jauh lebih baik dari mereka. Memang manusia tidak pernah puas. Tapi belajarlah untuk menoleh ke bawah. Masih banyak orang di bawah kita yang kekurangan. Jangan selalu mendongak, melihat kehidupan orang lain jauh lebih baik. Ibarat pepatah, rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Dengan kata lain, apapun keadaan kita, pasti kita tidak akan puas dengan keadaan kita. So, mari kita ubah pola pikir mayoritas manusia yang salah ini.

Namun saya belajar satu hal dari bapak ini. Meskipun hidupnya sangat kekurangan, namun ia selalu bersyukur akan apa yang telah ia dapatkan. Dia mengingatkan anaknya untuk berdoa dulu sebelum makan (kebetulan bapak ini orang Katolik) sebagai tanda syukur sudah bisa makan hari itu. Bahkan tidak ada raut wajah bersungut-sungut dan kecewa. Yang ada hanya kebahagiaan bisa berkumpul dan makan bersama dengan keluarga tercinta. Salut Bapak!

No comments: